Selasa, 06 Oktober 2009

Diskriminasi dan Teror terhadap Tionghoa Korban Gempa Padang


Beberapa koran nasional melansir berita ttg diskriminasi thdp komunitas Tionghoa di Padang yang menjadi korban Gempa. Berita dibawah ini juga melansir topik yang sama. Harusnya di saat sudah tidak zamannya lagi terjadi diskriminasi thp siapapun anak bangsa di negeri ini, kenapa ini masih bisa terjadi ? Apa ini untuk memancing agar terjadi eksodus besar-besaran dari Padang ?Padahal saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, sebelum bencana Gempa terjadi, saat saya masih bolak balik Jakarta - Padang tiap minggu - saya bisa menyaksikan betapa rukunnya komunitas Tionghoa dan komunitas masyarakat pribumi. Jadi, kalau sekarang beredar SMS atau fakta ternyata ada perlakuan diskriminasi thdp warga Tionghoa di Padang yg jadi korban gempa, harusnya diselidiki kenapa ini bisa terjadi.



Yang aneh adalah saat bencana begini, kenapa aparat keamanan bisa menghilang? Harusnya mereka siap mengamankan lokasi bencana sehingga penjarah tidak bisa memeras atau menjarah siapapun anggota masyarakat yang menjadi korban gempa. Lagi lagi orang Tionghoa yang jadi korban pemerasan. Atau karena mereka orang Tionghoa makanya dibiarkan jadi korban pemerasan pada saat terjadi bencana gempa
di Padang ?

Jawa Pos
[ Senin, 05 Oktober 2009 ]

SMS Berisi Isu Diskriminasi dari Kampung Pecinan

HARI keempat pascagempa di Pa­dang mulai diwarnai munculnya isu-isu sensitif dan kabar pen­jarahan yang potensial memper­getir nasib para korban.

Warga Tionghoa yang bermukim di sebuah kampung pecinan di pu­­sat Kota Padang, misalnya, di­ka­­barkan telah menjadi korban dis­­kriminasi dalam hal penangan­an evakuasi dan pembagian bantu­an. Sebuah pesan singkat yang ber­edar dari HP ke HP kemarin, mi­salnya, berbunyi: Tell the world, Stop the donation to West Sumatra!!! Primordialism and racism is happening in there, Chinese people didn’t allowed to have food and was forced to buy the food aid. Family of mine was at there!!! Please sent out this massage to the world so they know the true!!! (kata­kan pada dunia, stop bantuan ke Sumatra Barat!!! Primordialis­me dan rasisme terjadi di sana, war­ga Tionghoa tak diperbolehkan mendapatkan makanan dan dipaksa membeli bantuan makanan. Keluargaku di sana!!! Tolong sebarkan pesan ini ke seluruh dunia biar mereka tahu kenyataan ini!!!)

Benar tidaknya kenyataan yang terjadi di kampung Tionghoa dengan isi SMS itu, Sutan Zaili Asril, direktur Padang Ekspres, anak per­usahaan Jawa Pos di Padang semalam memberi penuturan. Dari penga­matannya selama empat hari setelah terjadi gempa, proses evakuasi terhadap korban bencana di Pondok China memang dinilai lambat. Hal itulah yang memicu merebaknya isu pendistribusian bantuan yang tak adil di beberapa tempat, termasuk di kawasan Pecinan.

Padahal, buruknya manajemen dan ketidakberdayaan petugaslah yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, para korban sangat membutuhkan bantuan. Zaili menilai, distribusi bantuan yang diberikan pemkot juga tidak mengarah. “Entah kenapa, kesannya pemerintah cenderung memprioritaskan evakuasi di Hotel Ambacang, LBB Gama, Prayoga, Sigma, maupun LBB Lia. Padahal, evakuasi di Pondok China maupun Pasaraya seharusnya juga menjadi prioritas karena jumlah korbannya sangat banyak,” terang Zaili lebih lanjut.

Perlu juga diketahui, situasi lebih memiriskan dulu juga terjadi beberapa hari pascagempa tsunami Aceh pada 2004. Buruknya manajemen penyaluran bantuan dan minimnya pengawasan membuat situasi menjadi bar-bar dan tak terkontrol. Di berbagai tempat di Aceh, waktu itu, para penjarah bahkan sampai tega memotong jari mayat korban tsunami untuk mengambil cincin, anting di ku­ping, dan perhiasan lain.

“Sejak hari pertama gempa, kami belum mendapat bantuan sama sekali,” kata Ny Esther, salah seorang warga yang bermukim di Jalan Klenteng. Padahal, lokasi kampung tempat tinggal Esther berada di pusat Kota Padang. Apalagi, rumah wanita 43 tahun itu luluh lantak. Bangunannya tinggal separo, seperti dibelah menjadi dua.

Menanggapi isu sensitif itu, Pe­ng­urus Wilayah Muhammadiyah Jatim Sulton Amin benar-benar sangat prihatin. Menurut dia, hal itu sangat memalukan. Terlebih, per­hatian dunia saat ini juga me­ngarah pada kondisi para korban gempa. ”Jangan sampai relawan asing yang membantu di Padang hengkang sebelum waktunya gara-gara masalah ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, sudah waktunya membuang ego pribadi yang muncul akibat perbedaan suku, agama, ras ,dan warna kulit. Perasaan senasib sebagai warga Indonesia dan sesama korban gempa yang membutuhkan bantuan seharusnya mampu melebur perbedaan itu.

Selain itu, dia mengharapkan seluruh masyarakat tetap tenang dan tidak terprovokasi. Bahkan, dia siap membantu kalau langkah prosedural seperti melaporkan kepada pihak terkait tetap tidak membawa perubahan. ”Langkah terkahir adalah menyerahkan bantuan langsung ke etnis Tionghoa maupun kelompok lain yang didiskriminasikan,” tegasnya.
Read more.....

Minggu, 04 Oktober 2009

Kampung Cina Terlupakan Pemerintah Sumbar

PADANG - Salah satu kawasan yang menjadi korban gempa di Sumatera Barat adalah Kota Tua yang merupakan Kampung Cina, di kawasan Padang Selatan. Etnis Tionghoa sebagian besar tinggal di wilayah ini.


Sayang, daerah ini tampaknya kurang mendapat perhatian pemerintah. Bahkan, untuk data koban, daerah ini tidak masuk dalam data Satuan Koordinasi dan Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana Pemerintah Sumbar.

Pantauan di lokasi, Minggu (4/10/2009), upaya evakuasi sudah dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat. Karena minimnya alat-alat berat, puluhan warga berusaha mencari sanak saudara mereka dengan menarik robohan bangunan menggunakan tali tambang.

Tak satu pun posko pemerintah berada di tempat ini. Hanya satu posko kesehatan milik etnis Cina yang tampak berdiri di Jalan Niaga, Padang Selatan yang tertutup debu tebal. Masyarakat sekitar pun terpaksa mengenakan masker untuk melewati jalan tersebut.

Bantuan kesehatan pun, justru datang dari tim kesehatan Malaysia, dapur umum dari Yayasan Kasih Sesama, beberapa mobil tenda bertuliskan PDIP.

Korban tewas di kawasan ini berjumlah 60 orang. 30 di antaranya sudah dievakuasi ke HBT (Himpunan Bersatu Teguh), HCT (Himpunan Cinta Teman) dan sisanya di Santo Yosef.(lir)(Anang Purwanto/Trijaya/ded)

sumber : Okezone



Read more.....

Jumat, 02 Oktober 2009

Gempa Sumatera Barat 7.6 Skala Richter


Indonesia kembali dilanda gempa berskala besar. Gempa yang terjadi di Sumatera Barat pada pukul 5 sore ini tergolong gempa yang patut ditakuti.



Menurut BMG bener ada gempa skala 7.6 pada pukul 17.16 WIB. Gempa ini tidak berpotensi tsunami. Epicentrum di bagian Sumatera Barat.
Gempa 7,6 skala richter (SR) mengguncang Pariaman, Sumatera Barat. Gempa berkekuatan yang cukup besar itu terjadi di kedalaman 71 kilometer.

Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa 7,6 SR itu terjadi pada pukul 17.16.09 WIB, Rabu, 30 September 2009.

Gempa terjadi di lokasi 0.84 Lintang Selatan dan 99.65 Bujur Timur . Pusat gempa berada di arah 57 kilometer barat daya Pariaman, Sumatera Barat.

Sedangkan menurut Metro TV, di Padang banyak gedung dan rumah yang hancur dan banyak kepulan asap. Gempa tersebut dirasakan sampai ke Jambi dan Medan.

Kondisi pada pukul 22.00pm. Lokasi kejadian dilanda hujan deras, evakuasi susah dilakukan. Transportasi, Telekomunikasi banyak yang putus. Menurut Wapres Jusuf Kalla di Metro TV, dampak gempa ini bisa lebih parah dari gempa yang terjadi di Tasik kemarin.

Sarana komunikasi yang belum pulih hingga saat ini membuat banyak warga kesulitan menghubungi anggota keluarganya. Korban tewas hingga saat ini sebanyak 75 orang.

Korban diperkirakan akan terus bertambah, mengingat masih banyak korban yang terjebak reruntuhan bangunan.

*dari berbagai sumber




Read more.....

Gempa 30 September 2009 di Sumbar

Gempa dengan Kekuatan 7,6 SKR terjadi di Pariaman pada waktu 17.16 WIB. Gempa tersebut terjadi akibat patahan aktif pada lempeng Indo-Australia. Demikian pendapat pakar geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawijaya, kemarin. Di bawah ini kami turunkan wawancara dengan Danny Hilman terkait fenomena rentetan gempa di Sumatera.


Apa perbedaan karakter gempa dari kedua pusat gempa tersebut—di daratan dan lautan?

Di zona subduksi, kekuatan gempa maksimumnya lebih dari 8 SR, bahkan sampai 9,3 SR seperti gempa Aceh, dengan periode ulang (siklus gempa) yang lebih panjang, hingga ratusan tahun. Sementara di Patahan Sumatera kekuatan maksimumnya tak lebih dari 8 SR (dalam sejarah yang paling besar hanya 7,7 SR), tetapi kejadian gempanya relatif lebih sering. Ancaman bencana dari Mentawai megathrust, selain guncangannya, juga bisa menimbulkan tsunami. Karena letaknya di daratan dan banyak melewati wilayah populasi padat, guncangannya bisa sangat mematikan walau kekuatannya tidak mencapai 8 SR.

Sejak gempa Aceh tahun 2004, serentetan gempa besar terjadi susul-menyusul, terutama di Sumatera dan Jawa. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Ini menandakan akumulasi tekanan tektonik (energi gempa) pada wilayah batas lempeng (plate boundaries) Sumatera-Jawa secara kebetulan sudah tinggi. Akumulasi energi di setiap sumber gempa/patahan aktif sudah penuh sehingga pada 10 tahun terakhir kita menyaksikan pelepasan akumulasi tekanan tektonik secara beruntun, terjadi gempa saling susul.

Sumber gempa paling besar di wilayah ini adalah pada batas lempeng (zona subduksi) di bawah Mentawai (Siberut-Sipora-Pagai) yang disebut sebagai Mentawai megathrust. Gempa Padang berkekuatan 7,6 SR lokasinya persis di pinggir timur megathrust ini. Sumber gempa ini sudah pada akhir siklus, siap meledak setiap saat dan kekuatannya bisa mencapai 8,8-8,9 SR kalau tekanan tektoniknya dilepaskan sekaligus.

Gempa Nias tahun 2005 (8,7 SR) memecahkan segmen megathrust persis di utara Mentawai megathrust. Gempa Bengkulu tahun 2007 (8,4 SR dan 7,9 SR) memecahkan segmen megathrust persis di selatan Mentawai megathrust. Rentetan gempa 7 SR terjadi Februari 2008 dan Agustus 2009, juga di sekitar ”inti” Mentawai megathrust. Sejauh ini Mentawai megathrust ”selalu dilewati”. Ini misteri alam.

Sementara itu, data segmen Selat Sunda sangat kurang sehingga statusnya belum diketahui (seismic gap). Kalau terjadi gempa besar di sini, bisa berbahaya untuk wilayah ini, termasuk Jakarta.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi jumlah korban?

Jatuhnya korban karena gempa bumi sebetulnya lebih karena sikap dan ulah manusia daripada alam. Getaran gempa tidak membunuh. Kita mengerti yang membunuh adalah bangunan yang runtuh akibat tidak tahan gempa atau fondasinya jelek, misalnya karena ada proses pelulukan lapisan pasir di bawah tanah (liquefaction)—menyebabkan bangunan di atasnya ambles. Hal lain karena terjadi kebakaran akibat short-circuit aliran listrik atau lainnya. Korban juga terjadi karena tertimbun longsor yang menimpa bangunan.

Semua itu bisa dihindari kalau saja tata ruang dan kode bangunannya mengikuti kaidah mitigasi bencana gempa. Salah kaprah kalau menyalahkan alam dan ”takdir Tuhan”. Semua tergantung dari usaha kita sebagai manusia yang bisa berpikir dan belajar dari pengalaman. (ISW)
Sumber : Kompas
Read more.....

 
Copyright  © 2007 | Design by Unique             Icon from : FamFamFam             Powered by Powered By Blogger